Oleh:
Rony Obed O. Manongko (Dosen)
Helkha Tindage (Mahasiswa)
Junivka Rumondor (Mahasiswa)
Ronal Hamaraeng (Mahasiswa)
Patrisia Namangge (Mahasiswa)
Juvaldy Ngalo (Mahasiswa)
STT Missio Dei Manado

Oleh:
Rony Obed O. Manongko (Dosen)
Helkha Tindage (Mahasiswa)
Junivka Rumondor (Mahasiswa)
Ronal Hamaraeng (Mahasiswa)
Patrisia Namangge (Mahasiswa)
Juvaldy Ngalo (Mahasiswa)
STT Missio Dei Manado
artikel ini menampilkan hubungan yang kuat antara praktik pelayanan dan pertumbuhan rohani. Kegiatan PKM digambarkan sebagai sarana pembentukan iman yang kontekstual, karena melibatkan interaksi langsung dengan realitas kehidupan masyarakat. Melalui pengalaman tersebut, iman tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diuji dan diperdalam dalam praktik nyata. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa iman Kristen bersifat dinamis dan berkembang melalui tindakan konkret di tengah kehidupan sosial.
Menurut saya, artikel “Pertumbuhan Iman Kristen Melalui Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Nagha 1 Tamako” memberikan pemahaman yang baik bahwa iman Kristen tidak hanya bertumbuh melalui ibadah di gereja, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam melayani sesama. Artikel ini menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk penerapan ajaran Kristus, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Saya melihat bahwa kegiatan PKM di Desa Nagha 1 Tamako menjadi sarana yang efektif untuk membangun hubungan antara gereja, mahasiswa, dan masyarakat. Melalui pelayanan sosial, pendidikan, kerja sama, serta kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat, nilai-nilai kekristenan dapat diwujudkan secara nyata. Hal ini menunjukkan bahwa iman yang hidup adalah iman yang disertai perbuatan, sebagaimana diajarkan dalam Yakobus 2:17 bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Selain itu, artikel ini juga memperlihatkan bahwa pelayanan kepada masyarakat bukan hanya membawa manfaat bagi warga desa, tetapi juga bagi para pelayan itu sendiri. Dalam proses melayani, seseorang belajar kerendahan hati, tanggung jawab, kesabaran, dan kasih. Dengan demikian, pertumbuhan iman terjadi melalui pengalaman langsung dalam menghadapi tantangan dan kebutuhan orang lain, artinya kelebihan artikel ini adalah menempatkan iman Kristen dalam konteks kehidupan sosial. Kekristenan tidak boleh bersifat pasif atau hanya berfokus pada kegiatan rohani semata, tetapi harus hadir membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Gereja dan orang percaya dipanggil menjadi garam dan terang dunia melalui tindakan nyata. Sebagai tanggapan, saya setuju bahwa program seperti PKM perlu terus dikembangkan, karena selain menolong masyarakat, kegiatan tersebut juga membentuk karakter rohani para peserta. Artikel ini mengingatkan bahwa pertumbuhan iman yang sejati terjadi ketika seseorang mau keluar dari zona nyaman dan melayani sesama dengan kasih Kristus.