חַג פֶּסַח כָּשֵׁר וְשָׂמֵחַ
“khag pesakh kasher wesame’akh”
PASKAH
Oleh: Dr. Rony Obed Oktafiano Manongko, Th.M.
Paskah dalam tradisi Israel berakar pada pengalaman historis pembebasan dari perbudakan di Mesir (Kel. 12:1–28), yang dimaknai bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan transformasi menuju kehidupan sebagai umat Allah yang merdeka dan bermartabat. Istilah “פֶּסַח” (pesakh) sendiri mengandung gagasan “melewatkan” atau “menyelamatkan,” yakni tindakan ilahi yang membebaskan dari hukuman dan kematian (Kel. 12:13, 27). Dalam perkembangan maknanya, simbolisme ini mencapai kedalaman teologis dalam pribadi Yesus Kristus, terutama melalui Perjamuan Kudus, di mana roti dan anggur dimaknai sebagai representasi tubuh dan darah-Nya yang dikorbankan bagi manusia (Luk. 22:19–20). Seperti darah anak domba pada Paskah pertama yang melindungi Israel, pengorbanan Kristus dipahami sebagai dasar keselamatan yang membebaskan manusia dari dosa dan membuka jalan menuju kehidupan baru dalam anugerah Allah (Yoh. 8:34–36; 1 Kor. 5:7; 1 Pet. 1:18–19).
Paskah dalam Pemaknaan
Kematian dan Kebangkitan Kristus
Paskah dalam terang kematian Kristus memperlihatkan sebuah garis merah yang tidak terputus sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Dalam Kitab Keluaran 12:13, darah anak domba menjadi tanda yang membuat umat Israel “dilewati” oleh maut, sehingga keselamatan tidak datang dari kekuatan manusia, melainkan dari ketaatan pada ketetapan Allah. Pola ini “כְּבָר” (kəvār) mengandung makna “sudah sejak awal” hadir sebagai dasar pemahaman teologis: bahwa keselamatan selalu terkait dengan pengorbanan yang ditetapkan Allah sendiri. Gambaran ini semakin diperdalam dalam Kitab Yesaya 53:5–7, di mana sosok hamba yang menderita digambarkan seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian, menanggung dosa banyak orang. Ketika masuk ke Perjanjian Baru, hubungan ini menjadi semakin jelas; Yesus disebut sebagai Anak Domba Allah dalam Injil Yohanes 1:29, dan Paulus menegaskan bahwa Kristus adalah “anak domba Paskah kita” dalam 1 Korintus 5:7. Dengan demikian, kematian Kristus bukan sekadar tragedi, melainkan penggenapan dari pola ilahi yang dirancang sejak awal: darah yang dicurahkan sebagai jalan keselamatan bagi umat manusia.
Namun, Paskah tidak berhenti pada kematian; justru kebangkitan menjadi kunci yang membuka makna terdalam dari seluruh peristiwa ini. Dalam Kitab Mazmur 16:10 terdapat janji bahwa Allah tidak membiarkan orang kudus-Nya melihat kebinasaan, sebuah pernyataan yang melampaui konteks Daud dan menemukan penggenapannya dalam kebangkitan Kristus (Mat. 28:5–6). Bahkan dalam Kitab Hosea 6:2 tersirat harapan pemulihan “pada hari yang ketiga,” yang sering dipahami sebagai bayangan dari kebangkitan. Perjanjian Baru kemudian menegaskan bahwa kebangkitan bukan sekadar mukjizat, melainkan kemenangan final atas dosa dan maut (Rm. 6:8–9; 1 Kor. 15:20–22). Di sini Paskah mencapai makna penuhnya: bukan hanya pembebasan dari ancaman kematian seperti dalam Keluaran, melainkan pembaruan hidup yang tidak lagi dikuasai kematian. Orang percaya tidak hanya diajak mengingat salib, tetapi juga hidup dalam realitas kebangkitan. Sebuah kehidupan baru yang dijanjikan Allah sejak awal dan kini digenapi sepenuhnya dalam Kristus.
| NUBUATAN-PENGGENAPAN KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS | ||
| Topik | Nubuatan PL | Penggenapan PB |
| Menanggung dosa dunia Diolok-olok Tangan dan kaki dipaku Tidak ada tulang yang patah Serdadu membuang undi Doa Kristus Buruk rupa Disesah dan mati Kebangkitan | Mazmur 22:2 Yesaya 53:4 Mazmur 22:7,8 Mazmur 2216 Mazmur 22:17 Mazmur 22:18 Mazmur 22:24 Yesaya 52:14 Yesaya 53:5 Mazmur 16:10;22:22 | Matius 27:46 Matius 27:39,43 Yohanes 20:25 Yohanes 19:33-36 Yohanes 19:24 Matius 26:39; Ibrani 5:7 Yohanes 19:1 Yohanes 19:1,18 Matius 26:6; Kisah Para Rasul 2:27-28 |
Pemahaman khusus; Dinyatakan oleh kesaksian PB, Yesus Kristus bangkit pada hari ketiga (Luk. 24:46; 1 Kor. 15:4). Terdapat kesenjangan pemahaman bagi pembaca masa kini, terhadap konsep “3 hari” dalam peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Perlu dipahami bahwa perhitungan waktu 1×24 jam orang Israel merujuk pada peristiwa Penciptaan yang memulai dengan “jadilah petang dan jadilah pagi” (Kej. 1). Sehingga perhitungan “satu hari” (24 jam), tidak dimulai dari pukul: 00.00/24.00 (12 malam), melainkan pukul: 18.00 (6 petang). Sehingga, kronologi “tiga hari” dalam peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus sebagaimana berikut:
- Hari Pertama (Kamis, pukul: 18.00 – Jumat, pukul: 18.00 = 24 jam): Injil-injil menyatakan bahwa Yesus mati pada hari Jumat “Jam 3 sore” (Mat. 27:45; Mrk. 15:34; Luk. 23:44). Posisi waktu tersebut masih dalam kategori hari pertama.
- Hari kedua (Jumat, pukul: 18.00 – Sabtu, pukul: 18.00 = 24 jam), Yesus dikubur.
- Hari ketiga (Sabtu, pukul: 18.00 – Minggu, pukul: 18.00 = 24 jam): Injil-injil menyatakan Yesus bangkit pada “fajar” (pagi-pagi benar/subuh) pada “Hari pertama setelah Sabath Yahudi” (Mat. 28:1; Mrk. 16:1-8; Luk. 24:1-6; Yoh. 20:1). Waktu kebangkitan Yesus, pada posisi hari ketiga.
Sehingga, peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus memenuhi unsur waktu “3 hari.”
Kepentingan Kematian Kristus
Bagi Orang Percaya
Kepentingan kematian Yesus Kristus bagi orang yang percaya kepadaNya adalah:
- Pengganti: Penderitaan dan kematian Yesus Kristus, menggantikan penderitaan dan kematian orang berdosa yang harus dijatuhi hukuman (Yes. 53; 1 Pet. 2:24; 3:18; Mat. 20:28; 1 Tim. 2:6; Gal. 3:13; 2 Kor. 5:21, dll).
- Penebusan: Penderitaan dan kematian Yesus Kristus, membayar lunas setiap hutang pemberontakan dan kecemaran dosa, menurut harga kekudusan Allah sendiri (1 Kor. 6:20; 7:23; Gal. 3:13; 4:5; Why. 5:9; 14:3,4, dll.)
- Pendamaian: Penderitaan dan kematian Yesus Kristus, memulihkan Persekutuan antara orang percaya dengan Allah Yang Mahakudus (Rm. 3:25; 5:10; 2 Kor. 5:18-20).
- Pengampunan: Penderitaan dan kematian Yesus Kristus, berdampak pada pengampunan Allah terhadap orang berdosa yang mau percaya kepada Yesus Kristus (Kol. 2:13 band. Mat. 6:12; 9:6; Yak. 5:15; 1 Yoh. 1:9).
- Pembenaran: Penderitaan dan kematian Yesus Kristus, membenarkan orang berdosa yang percaya kepadaNya di hadapan kekudusan Allah (Rm. 5:1,9,28; Gal.2:16).
Dengan demikian, kematian Yesus Kristus menjadi dasar keselamatan yang utuh bagi orang percaya, karena di dalamnya terpenuhi penggantian, penebusan, pendamaian, pengampunan, dan pembenaran yang memulihkan manusia sepenuhnya di hadapan Allah.
Kepentingan Kebangkitan Kristus
Bagi Diri-Nya Sendiri: Kematian dan kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa apa yang Ia katakan benar-benar terjadi seperti yang telah dinubuatkan sebelumnya (Mat. 20:19). Hal ini memperlihatkan bahwa perkataan-Nya bukan sekadar ajaran biasa, melainkan memiliki kepastian yang dapat dibuktikan. Dengan demikian, setiap janji yang disampaikan-Nya layak untuk dipercaya, karena telah teruji melalui peristiwa yang nyata.
Bagi Karya-Nya: Kematian tidak menghentikan karya Yesus, tetapi justru menegaskan bahwa karya-Nya terus berlangsung. Dalam Roma 6:1–10 dan Galatia 2:20, terlihat bahwa kehidupan baru yang dialami orang percaya merupakan bagian dari karya Kristus yang hidup. Ia tetap berperan sebagai Pengantara dan Kepala Gereja yang memberi kekuatan, sehingga hubungan orang percaya dengan-Nya tidak terputus, melainkan semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Injil: Kematian dan kebangkitan Kristus menjadi inti dari pemberitaan Injil (1 Kor. 15:3–8; Rm. 4:25). Injil bukan hanya berisi ajaran, tetapi berita tentang apa yang telah terjadi melalui Kristus bagi manusia. Karena itu, Injil membawa pengharapan yang pasti, sebab didasarkan pada peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, bukan sekadar pemikiran atau harapan kosong.
Bagi Orang Percaya: Bagi orang percaya, kebangkitan Kristus memberikan dasar yang kuat untuk berharap akan kehidupan di masa depan (1 Kor. 15:13–19). Jika Kristus telah bangkit, maka ada jaminan bahwa kehidupan tidak berakhir pada kematian. Pengharapan ini membuat iman tidak sia-sia, tetapi memiliki arah yang jelas, yaitu hidup yang kekal bersama Allah.
Pengaruh Kebangkitan Kristus
Bagi Ibadah Kristen
Sekalipun banyak dampak impak dari kebangkitan Kristus terhadap ibadah Kristen, namun pada tulisan ini cukup membatasi antara lain:
- Sabat “Sabtu” menjadi Sabat “Minggu.”
- Hari Minggu Adalah hari kebangkitan Tuhan Yesus Kristus (Mat. 18:1-10; Mrk. 16:1-8; Luk. 24:1-12; Yoh. 20:1-10). Dengan demikian, hari minggu Adalah hari peringatan dan perayaan kemenangan dan kehidupan. Kontras dengan hari Sabtu, Dimana Tuhan secara ragawi manusia, masih di dalam kubur dalam kematian. Sehiangga pemaknaan ibadah Mingggu adalah kemenangan atas dosa dan pengharapan hidup yang kekal di dalam Kristus.
- Praktek ibadah Minggu telah dilakukan oleh jemaat mula-mula, pada zaman para rasul Yesus Kristus (Kis. 20:7; 1 Kor. 16:2). Frase “Hari Tuhan” (“τῇ κυριακῇ ἡμέρᾳ” te kurieke hemera), diidentikkan dengan “hari pertama” dalam satu minggu (Why. 1:10).
- Bapa-bapa gereja menegasakan bahwa “hari Tuhan” Adalah “hari Minggu.” Bapa-bapa gereja yang merupakan murid ataupun generasi ketiga dari para rasul Yesus Kristus yang menyatakan hal tersebut antara lain: Ignatius (115 M), Justinus Martyr (165 M), Melito Uskup Sardir (190 M), Tertulianus (200 M).
- Pembatalan Makanan Haram
- Bianatang yang dikategorikan haram (Im. 11; Ul. 14:3-21), adalah Binatang yang sangat terkait dengan keyakinan dan praktek ibadah penyembahan berhala. Kata kunci yang digunakan bagi Binatang dalam kategori haram adalah: “kekejian” yang diterjemahkan dari kata “תּוֹעֵבָֽה” (tōw‘êḇāh). Istilah tersebut terkait dengan adat istiadat, kebiasaan, berhala orang asing, yang keji bagi TUHAN (Ul. 13:14; Yer. 44:4, dll.).
- Ibadah dalam kaitan dengan memberikan hewan kurban, sudah tidak diperlukan lagi. Harus dipahami, Imamat 11 dan Ulangan 14 adalah praktek ibadah yang harus diterapkan oleh Israel. Mengingat bahwa Kristus sudah mati sebagai “Anak Domba Paskah” (1 Kor. 5:7; band. 1 Pet. 1:19), maka ketetapan tentang hewan kudus atau tidak kudus (kekejian), sudah tidak diperlukan lagi.
- Posisi yang Merdeka
- Keluaran 20:8-11: “enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ke tujuh adalah hari Sabat TUHAN Allahmu….” Penjelasan: Sekalipun hari Minggu Adalah hari pertama dalam satu minggu, namun merupakan hari ketujuh setelah bekerja. Teks tidak memberikan penegasan tentang “Nama Hari,” melainkan “Aktifitas kerja yang ditutup dengan ibadah kepada TUHAN.” Sehingga, hari Minggu tetap disebut dengan “Sabat.”
- Kolose 2:16-17: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau…hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan…wujudnya ialah Kristus.” 1 Timotius 4:3-4: “Mereka itu melarang…makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan Syukur dimakan….Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram….” Penjelasan: Tuhan Yesus sendiri menegaskan tentang makanan bukan lagi menjadi pokok dalam kepentingan perilaku ibadah (Mat. 15:2,17-20). Sehingga soal makanan tidak menentukan kekudusan rohani.
Ketiga aspek tersebut, memberikan nilai baru dalam kehidupan rohani umat Tuhan yang percaya kepada Yesus Kristus yang bangkit dan menang dari kematian.
חַג פֶּסַח כָּשֵׁר וְשָׂמֵחַ
“khag pesakh kasher wesame’akh”
Arti:
Selamat merayakan Paskah yang halal dan gembira
Dalam bahasa Inggris
Happy Passover
…
- Referensi:
- Enns, Paul. “Kristologi: Doktrin Kristus” dalam The Moody Handbook of
- Theology. Diterjemahkan oleh: Rahmiati Tanudjaja. Malang: Literatur
- SAAT. 2004.
- Kaiser, Walter C., Jr. “The Passover: Its Biblical and Theological
- Significance.” Journal of the Evangelical Theological Society. 61, no. 2
- (2018): 245–58.
- https://www.academia.edu/105480975/The_Old_Testament_Theolog
- y_of_Walter_Christian_Kaiser_Jr
- Laansma, Jon. “Lord’s Day.” Dalam Dictionary of the New Testament
- Background, diedit oleh Craig A. Evans dan Stanley E. Porter, 679–82.
- Downers Grove: InterVarsity Press, 2000.
- Martin, R.P. “Hari Persiapan” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jil. 1.
- Disunting oleh: J.D.Douglas, dkk. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
- Kasih. 2008.
- Meyer, Heinrich August Wilhelm. “Revelation 1:10” dalam Meyer’s NT
- Commentary. BibleHub.
- https://biblehub.com/commentaries/revelation/1-10.htm.
- Prosic, Tamara. “Passover in Biblical Narratives.” Journal for the Study of the
- Old Testament. 24(82):45-55.
- https://www.researchgate.net/publication/254121307_Passover_in_
- Biblical_Narratives
- Ryrie, Charles C. “Kebangkitan dan Kenaikan Kristus ke Surga” dalam
- Teologi Dasar, Jil., 1. Diterjemahkan oleh: Ratri Kumudawati.
- Yogyakarta: ANDI. 2001.
- Smith, George Adam. “Exegetical: Deuteronomy 14:3” dalam Cambridge
- Bible for Schools and Colleges. BibleHub.
- https://biblehub.com/commentaries/deuteronomy/14-3.htm
Full Document below
