Gereja “GKRI Solagracia Tamako” di Desa Nagha 1, Kecamatan Tamako, Kepulauan Sangihe, baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Warga Gereja (PWG), yang merupakan implementasi dari kerjasama strategis antara GKRI Solagracia dan Sekolah Tinggi Teologi Missio Dei Manado. Tema yang diangkat sangat krusial: “Spiritualitas Penatua‑Diaken & Keluarga Pelayan.”
Acara ini berlangsung pada hari Selasa, 8 Juli 2025, dengan menghadirkan Gbl. Rony O. O. Manongko, Th.M sebagai narasumber utama. Bertindak sebagai moderator adalah Ronal Hamaraeng, mahasiswa semester IV, dan notulisnya adalah Christianiti Tiow, mahasiswa semester VI—keduanya berasal dari STT Missio Dei Manado.
Pembinaan ini membahas secara mendalam pentingnya spiritualitas yang utuh sebagai fondasi utama dalam pelayanan gereja. Fokus utama diarahkan pada bagaimana para penatua, diaken, dan keluarga pelayan dapat memelihara kehidupan rohani di tengah tuntutan pelayanan, serta menjadi teladan iman bagi jemaat.
Acara dihadiri oleh berbagai pihak: hamba-hamba Tuhan, para pendeta, majelis gereja, jemaat, alumni STT Missio Dei Manado, serta mahasiswa aktif. Semua pihak berpartisipasi aktif dalam diskusi dan berbagi pengalaman, selaras dengan tema besar tentang spiritualitas dalam pelayanan.

Beberapa poin utama hasil pembinaan ini adalah sebagai berikut:
1. Spiritualitas yang Utuh sebagai Fondasi Pelayanan
Disampaikan bahwa pelayanan yang efektif dan berkelanjutan hanya dapat ditegakkan di atas spiritualitas yang kuat dan otentik. Spiritualitas bukan pelengkap, melainkan inti panggilan seorang pelayan. Tanpa fondasi ini, pelayanan mudah menjadi rutinitas atau beban yang melelahkan. Oleh sebab itu, relasi pribadi yang mendalam dengan Tuhan dan penghayatan nilai-nilai Kristus sehari-hari sangat penting.
2. Keseimbangan antara Pelayanan dan Kehidupan Keluarga
Salah satu isu krusial yang diangkat adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara tugas pelayanan dan kualitas hidup keluarga. Keluarga bukan penghambat, tetapi sumber daya rohani utama. Spiritualitas harus tumbuh dan diaplikasikan dalam keluarga, yang menjadi wadah praktis dalam kehidupan iman. Para penatua dan diaken diajak untuk melihat keluarga sebagai bagian integral dari panggilan mereka.
3. Dukungan dan Pertumbuhan dalam Komunitas
Spiritualitas bukan perjalanan soliter. Pembinaan menekankan perlunya komunitas saling mendukung, menguatkan, dan mendoakan. Ruang berbagi antar pelayan sangat penting untuk menjaga kesehatan rohani dan semangat pelayanan. Pertumbuhan rohani berkelanjutan—melalui Firman Tuhan, doa, dan refleksi pribadi—juga ditekankan sebagai kunci agar pelayanan tetap hidup dan relevan.
4. Pelayanan sebagai Wujud Ketaatan dan Kasih
Pelayanan sejati lahir dari ketaatan dan kasih kepada Tuhan, bukan dari jabatan atau pengakuan manusia. Spiritualitas yang benar mendorong setiap pelayan untuk melayani dengan hati tulus, rendah hati, dan penuh sukacita—fokus pada kemuliaan Tuhan, bukan kepentingan diri sendiri.
Melalui kegiatan ini, diharapkan setiap peserta memperoleh pemahaman dan praktik spiritualitas yang komprehensif. Pimpinan Gereja “GKRI Solagracia Tamako” berharap agar para penatua, diaken, dan keluarga pelayan menjalankan tugas mereka dengan sukacita, ketahanan iman, serta menjadi teladan inspiratif bagi jemaat.
Sebagai bagian dari kerjasama berkelanjutan antara GKRI Solagracia dan STT Missio Dei Manado, pembinaan ini menjadi langkah strategis dalam memperkaya iman serta memperteguh komitmen para pelayan untuk terus bertumbuh di dalam Kristus.
